Selasa, 29 Maret 2016

Che Guevara


Che Guevara
CheHigh.jpg
Guerrillero Heroico
Picture taken by Alberto Korda on March 5, 1960, at the La Coubre memorial service.
BornErnesto Guevara
June 14, 1928[1]
RosarioSanta Fe province,Argentina
DiedOctober 9, 1967 (aged 39) (execution)
La HigueraVallegrande,Bolivia
Resting placeChe Guevara Mausoleum
Santa Clara, Cuba
Alma materUniversity of Buenos Aires
OccupationPhysicianauthorguerrilla, government official
Organization26th of July Movement, United Party of the Cuban Socialist Revolution,[2] National Liberation Army (Bolivia)
Spouse(s)Hilda Gadea (1955–1959)
Aleida March (1959–1967, his death)
ChildrenHilda (1956–1995)
Aleida (b. 1960)
Camilo (b. 1962)
Celia (b. 1963)
Ernesto (b. 1965)
Parent(s)Ernesto Guevara Lynch[3]
Celia de la Serna y Llosa[3]
Signature
CheGuevaraSignature.svg
Ernesto "CheGuevara (Spanish pronunciation: [ˈtʃe ɣeˈβaɾa];[4] June 14,[1] 1928 – October 9, 1967), commonly known as el Che or simply Che, was anArgentine Marxist revolutionaryphysician, author, guerrilla leader, diplomat, and military theorist. A major figure of the Cuban Revolution, his stylized visage has become a ubiquitous countercultural symbol of rebellion and global insignia in popular culture.[5]

Minggu, 06 Maret 2016

SEJARAH DAN ASAL USUL MALIN KUNDANG



Di suatu tempat, tinggalah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Kehidupan mereka sangat memperihatinkan, penuh dengan kesulitan dan jauh dari kata mapan. melihat kondisi kehidupan keluarga yang serba sulit ini, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas, berharap akan bisa merubah nasib kehidupan keluarganya. Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug kecil mereka. 

5 Fans Grup Musik Terbanyak Di Indonesia

1. OI (iwan fals fans club)
  Ini dia yang pastinya kalian tunggu-tunggu peringkat dengan fans club musik terbesar di indonesia di raih oleh OI para penggemarnya tersebar keseluruh pelosok nusantara bahkan sampai ke manca negara,

Menguak Misteri Kematian Kurt Cobain


Foto: Kurt Cobain / biography.com
KEMATIAN Kurt Cobain, vokalis Nirvana, pada 8 April 1994 di usia 27 tahun, kembali menambah jajaran musisi legendaris yang meninggal di puncak popularitas dan di usia yang terbilang muda. 

Mulai dari Jimi Hendrix, John Lennon, Bob Marley, Stevie Ray Vaughan, Dimebag Darrell, Jim Morrison, Freddie Mercury sampai Kurt Cobain, kematian mereka yang tiba-tiba membuat dunia tersentak sesaat dan bertanya, 'mengapa?'

Pertempuran Badar

Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazwāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy[1] dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Perang Salib

Perang Salib (bahasa Inggris: Crusade, jamak: Crusades) merupakan serangkaian kampanye militer berselang yang disahkan oleh beberapa Paus pada Abad Pertengahan, dari tahun 1096 sampai 1487. Pada tahun 1095 Kaisar Bizantium Alexius I Komnenus mengirimkan seorang utusan dari Konstantinopel kepada Paus Urbanus II di Italia untuk meminta dukungan militer dalam konflik dengan bangsa Turk di sebelah timur.[1] Sang paus segera menanggapi dengan memanggil para tentara Katolik untuk bergabung dalam Perang Salib Pertama. Tujuan jangka pendeknya adalah menjamin akses para peziarah ke tempat-tempat suci di Tanah Suci yang berada di bawah kendali penguasa Muslim. Tujuan jangka panjangnya adalah menyatukan kembali cabang-cabang Timur dan Barat dari dunia Kekristenan setelah perpecahan mereka pada tahun 1054, dengan paus sebagai kepala Gereja yang dipersatukan. Dengan demikian terjadi suatu perjuangan yang kompleks selama 200 tahun.
Ratusan ribu orang dari berbagai negara dan kelas yang berbeda di Eropa Barat menjadi tentara salib dengan mengambil suatu sumpah publik dan menerima indulgensi penuh dari gereja tersebut.[2][3][4] Beberapa tentara salib adalah para petani yang berharap atas pengilahian di Yerusalem.[5] Paus Urbanus II mengklaim bahwa siapa pun yang ikut serta akan diampuni dosa-dosanya. Selain menunjukkan pengabdian kepada Allah, sebagaimana dinyatakan olehnya, keikutsertaan memenuhi kewajiban feodal dan berkesempatan memperoleh manfaat ekonomi dan politik. Para tentara salib seringkali menjarah negara-negara yang mereka lalui dalam perjalanan, dan berlawanan dengan janji-janji mereka, para pemimpin tentara salib menguasai banyak dari wilayah ini bukan mengembalikannya kepada Bizantium.[3][6]
Perang Salib Rakyat memicu pembunuhan ribuan orang Yahudi, yang dikenal sebagai pembantaian Rhineland. Konstantinopel dijarah selama Perang Salib Keempat, sehingga usaha penyatuan kembali dunia Kristen pada saat itu mustahil terjadi. Pengepungan tersebut mengakibatkan melemahnya Kekaisaran Bizantium dan akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Kesultanan Ottoman pada tahun 1453. Para penguasa Eropa Barat tidak memberikan tanggapan yang jelas ketika kubu pertahanan Katolik yang terakhir di wilayah tersebut, Akko, jatuh pada tahun 1291.[7]
Ada beragam pendapat terkait perilaku tentara salib, mulai dari yang sifatnya pujian sampai yang sangat kritis. Dampak dari perang-perang salib sangat besar; mereka membuka kembali Laut Mediterania untuk perdagangan dan perjalanan, memungkinkan perkembangan Genoa dan Venesia. Para tentara salib melakukan perdagangan dengan penduduk lokal selama perjalanan mereka, dan para kaisar Bizantium Ortodoks seringkali mengorganisir pasar-pasar bagi para tentara salib yang bergerak melalui wilayah mereka. Perang-perang Salib menggabungkan identitas bersama dari Gereja Latin di bawah kepemimpinan paus, dan dianggap sebagai suatu simbol kepahlawanan, sikap kesatria, dan kesalehan. Hal ini karenanya melahirkan sastra, filsafat, dan roman abad pertengahan. Bagaimanapun berbagai perang salib semakin mengukuhkan hubungan antara militerisme, feodalisme, dan Katolikisme Barat, yang mana bertentangan dengan Perdamaian dan Gencatan Senjata demi Allah yang dipromosikan Paus Urbanus.[8]

Terminologi

"SALAHUDIN AL AYYUBI “ SANG LEGENDA PERANG SALIB ”

Salahudin Al Ayubi atau sering juga di sebut sebagai “Saladin” di dunia barat, merupakan panglima perang Muslim yang dikagumi kepiawaian berperang serta keshalihannya baik kepada kawan dan lawan-lawannya. Keberanian dan kepahlawanannya tercatat sejarah di kancah perang salib.Juli 1192 sepasukan muslim dalam perang salib menyerang tenda-tenda pasukan salib diluar benteng kota Jaffa, termasuk didalamnya ada tenda Raja Inggris, Richard I. Raja Richard pun menyongsong serangan pasukan muslim dengan berjalan kaki bersama para prajuritnya. Perbandingan pasukan muslim dengan Kristen adalah 4:1. Salahudin Al Ayubi yang melihat Richard dalam kondisi seperti itu berkata kepada saudaranya : ” Bagaimana mungkin seorang raja berjalan kaki bersama prajuritnya? Pergilah ambil kuda arab ini dan berikan kepadanya, seorang laki-laki sehebat dia tidak seharusnya berada di tempat ini dengan berjalan kaki “. Fragmen diatas dicatat sebagai salah satu karakter yang pemurah dari Salahudin, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Walalupun sedang diatas angin tetap berlaku adil dan menghormati lawan-lawannya.

Sejarah Hidup Salahudin